top
logo

POLLING

Apabila suatu organ lemah/xu kemungkinan gangguan organ apa saja yang terganggu misalnya lever
 

Statistics

OS : Linux u
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.6.38-log
Time : 17:39
Caching : Disabled
GZIP : Disabled
Members : 938
Content : 316
Web Links : 6
Content View Hits : 1059883

Home
Akupunktur Tuna Rungu PDF Print E-mail
Written by elvida_yuliana   
Sunday, 04 March 2012 08:07

KATA SAMBUTAN

Pertama, saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya kesempatan untuk datang ke Sekolah Luar Biasa Negeri 4 Jakarta dan melakukan pengobatan serta penelitian  terhadap para penderita tuna rungu (ketulian).

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kepala sekolah SLBN4 Jakarta, Dra. Eka Prapti. MM; Wakil Kepsek, Jailim, S.Pd, beserta seluruh guru dan pengurus sekolah yang telah memberikan izin, kesempatan dan waktu kepada saya untuk melakukan penelitian akupunktur ini. Serta  kepada para relawan yang telah mau ikut dalam penelitian ini. Jika tanpa mereka semua, penelitian ini tidak akan pernah berjalan dan membuahkan hasil. Karena kita tidak tahu apakah penelitian ini menghasilkan yang baik atau justru kegagalan yang beresiko besar.

Kenapa saya ingin dan berani melakukan penelitian akupunktur tuna rungu ini? Padahal ini beresiko sangat besar, yang bisa membahayakan para relawan juga saya sendiri. Karena penelitian adalah sesuatu yang dicoba, yang tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Saya merasa menjadi orang sakit yang tidak ada obatnya adalah sungguh sangat menyakitkan juga menyedihkan. Terkadang banyak pasien pasrah menghadapi penyakitnya. Banyak penderita tuna rungu di dunia yang ingin sembuh dari penyakitnya, tetapi banyak yang tidak tahu mereka harus berobat kemana atau tidak ada dokter di daerah mereka yang bisa menyembuhkan mereka. Banyak pasien mencoba mencari informasi pengobatan yang dapat menyembuhkan mereka baik lewat keluarga, teman, media (surat kabar, televisi, internet, radio, dsb).

Saya mencoba akupunktur sebagai salah satu alternatif di luar dari kedokteran barat. Saya berharap akupunktur ini minimal dapat mengobati ketulian mereka sehingga dapat mendengar lebih baik. Terapi ini berjalan lebih kurang 5 (lima) bulan. Dan ternyata ini membuahkan hasil yang baik.. Saya sangat gembira sekali terapi ini sama sekali tidak sia-sia. Dan bagi penderita tuna rungu di luar sana (Indonesia) mendapatkan harapan untuk sembuh (dapat mendengar).  Rasanya sangat bahagia saat mereka bisa sembuh dari penyakitnya.

Demikianlah akhir kata sambutan saya. Jika saya ada kekurangan dan kesalahan, saya minta maaf sebesar-besarnya. Sekian dan terima kasih.

 

Hormat saya,

 

Elvida Yuliana

 

Titik akupunktur yang dipilih untuk penderita tuna rungu baik tuli total maupun tuli parsial  :

  1. SI-19 (ting gong)

Lokasi : depan tragus pada sendi rahang

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 0,3-1 cun

Keistimewaan : titik pertemuan meridian SI dengan meridian SJ

  1. GB-2 (ting hui)

Lokasi : daerah lekukan, batas belakang proc. Condyloid mandibula dalam keadaan mulut terbuka.

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 1-1½ cun (mulut dalam keadaan terbuka).

  1. SJ-3 (zhong zhu)

Lokasi : punggung tangan antara tulang metacarpal ke-4 dan ke-5, 1 cun di atas titik SJ-2

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 0,3 cun.

Keistimewaan : titik SU meridian SJ dan titik tonifikasi .

  1. SJ-5 (wai guan)

Lokasi : dua cun di atas pergelangan tangan, sisi radial tendon otot extensor digitorum communis.

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 0,5-0,7 cun.

Keistimewaan : titik luo meridian SJ,  titik induk meridian istimewa yangwei.

  1. SJ-17 (yi feng)

Lokasi : di daerah lekakukan telinga bagian belakang (lobulus auricular), di antara proc. Mastoideus dan mandibula.

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 0,5-1 cun.

Keistimewaan : titik pertemuan meridian SJ dan meridian GB.

  1. SJ-20 (jia sun)

Lokasi : langsung di atas apex telinga, di bagian dalam garis rambut jika telinga ditekuk ke depan

Teknik menusuk : menelusur sedalam 0,3-0,5 cun.

  1. BL-23 (shen shu)

Lokasi : dua jari dari luar meridian GV, antara L-2 dan L-3.

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 0,5-1 cun.

Keistimewaan : titik SU belakang KI.

  1. KI-3 (tai xi)

Lokasi : antara mata kaki bagian dalam dan tendon achilus, setinggi bagian tertinggi mata kaki bagian dalam.

Teknik menusuk : tegak lurus sedalam 0,3 cun.

Keistimewaan : titik yen dan titik SU meridian KI.

 

Alasan memilih 8 (Sembilan) titik ini adalah:

1.      Telinga adalah hubungan luar dengan organ ginjal (kidney), sehingga dipilih KI-3 (Tai xi) dan BL-23 (Shen shu). Oleh karena itu, maka organ ginjal/KI dikuatkan. Biasanya penusukan pada KI-3 dan BL-23 akan terasa ngilu, kemerahan, dan pegal. KI-3 adalah titik yuan KI dan BL-23 adalah titik shu belakang ginjal. Ginjal menyimpan essen Jing (saripati) dan saripati adalah akar dari tubuh manusia. Ginjal mempengaruhi pertumbuhan tubuh. Ginjal adalah akar dari Qi.

2.      SI-19 (Ting gong), GB-2 (Ting hui), SJ-17 (yifeng), SJ-20 (Jia sun) dipilih untuk daerah sekitar telinga. Penusukan SI-19 dan GB-2 bisa dilakukan saat mulut terbuka karena pada saat mulut terbuka akan terdapat sebuah lubang di mana jarum bisa masuk. Tidak bisa dilakukan penusukan saat mulut tertutup, kalaupun masuk mungkin hanya ¼ cun saja.  Penusukan SI-19, GB-2, SJ-17 harus hati-hati karena biasanya pasien akan mengalami pusing, muka menjadi pucat karena penusukan langsung di organ telinga. Pasien juga akan mengalami telinga berdenging, pegal, ngilu gatal, merasa bengkak (padahal tidak bengkak), berdenyut, terhisap oleh jarum dan sakit. Mungkin terdapat sensasi lain yang tidak tercatat karena saya mengalami masalah komunikasi di mana mereka juga tidak bisa menerangkan kepada saya. Jika titik-titik ini dirangsang, biasanya pasien merasa sakit.

3.      SJ-3 (zhong zhu) dan SJ-5 (wai guan) adalah titik untuk mengobati gangguan telinga karena aliran meridian SJ masuk ke dalam telinga, kemudian muncul di depan telinga. Oleh karena itu, digunakan kedua titik ini.

 

Gambar telinga :

 


Tuli, tunarungu, atau gangguan dengar dalam kedokteran adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara.

Tuli dalam kedokteran dibagi atas 3 jenis:

1.     Tuli/Gangguan Dengar Konduktif yaitu gangguan dengar yang disebabkan kelainan di telinga bagian luar dan/atau telinga bagian tengah, sedangkan saraf pendengarannya masih baik, dapat terjadi pada orang dengan infeksi telinga tengah, infeksi telinga luar atau adanya serumen di liang telinga.

2.     Tuli/Gangguan Dengar Saraf atau Sensorineural yaitu gangguan dengar akibat kerusakan saraf pendengaran, meskipun tidak ada gangguan di telinga bagian luar atau tengah.

3.     Tuli/Gangguan Dengar Campuran yaitu gangguan yang merupakan campuran kedua jenis gangguan dengar di atas, selain mengalami kelainan di telinga bagian luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf pendengaran.

Ketulian dapat berupa akut dan kronis. Ketulian dapat terjadi tiba-tiba atau dalam jangka waktu panjang, atau sejak lahir sudah mengalaminya.  Menurut Kedokteran Cina, ketulian dapat terjadi karena :

  1. Naiknya Qi Liver/hati

Ketulian akut atau kehilangan pendengan yang datang dan pergi dengan stress, frustasi atau emosi lainnya. Hal ini umum terjadi dengan kondisi tinnitus, sakit kepala, kulit merah dan ketidaknyaman iga lateral.

  1. Api Liver/hati atau panas lembab Liver/hati dan Gall Bladder/kantong empedu.

Naiknya api liver menyerang ke kepala dapat membuat organ dalam telinga menjadi rusak, karena api bersifat menghanguskan.

  1. Stagnasi Qi dan darah

Gangguan pendengaran akut datang dengan tiba-tiba karena melakukan aktivitas berat seperti angkat berang, trauma di kepala, atau bersin. Akan ada rasa sakit yang tajam di kepala atau sekitar telinga, dan mungkin warna umum di sekitar telinga.

  1. Insufisiensi Qi dan darah.
  2. Defisiensi ginjal

Gangguan pendengaran lambat yang menyebabkan ketulian. Hal ini sering terjadi pada orang lanjut usia, di mana metabolisme tubuh mereka sangat lambat.

Saat ibu hamil, ibu mengalami gizi kurang sehingga ginjal lemah. Ginjal adalah tempat menghasilkan dan menyimpan intisari (jing), dan berhubugan dengan perkembangan organ. Jika ginjal lemah, maka organ yang dihasilkan lemah. Dan organ ginjal berhubungan luar dengan panca indra telinga.

 

Para sukarelawan penelitian akupunktur untuk tuna rungu

  1. Gilly Apriringa (Laki-laki/18 tahun)
  2. Jonatan OK (Laki-laki/21 tahun)
  3. Ayub Indrawan (Laki-laki/18 tahun)
  4. Vidia (Perempuan/12 tahun)
  5. Rismawati (Perempuan/13 tahun)
  6. Jonathan Antonio Franciscus (Laki-laki/20 tahun)
  7. Darul Mujianto (Laki-laki/16 tahun)
  8. Azizah (Perempuan/17 tahun)
  9. Andri Anto (Laki-laki/17 tahun)
  10. Agus Wahyudin (Laki-laki/19 tahun)
  11. Mohammad Afrizal (Laki-laki/21 tahun)
  12. Bryan Ropson (Laki-laki/19 tahun)

 

Sensasi yang dirasakan pasien saat atau setelah diakupunktur :

1.      Ngilu

2.      Sakit

3.      Panas di sekitar titik yang ditusuk

4.      Dingin di sekitar titik yang ditusuk

5.      Urat tertarik di sekitar daerah yang ditusuk

6.      Kesetrum

7.      Bengkak (hematoma)

8.      Jalan-jalan di sekitar daerah yang ditusuk

9.      Gatal

10.  Berdenging

11.  Terhisap oleh jarum

12.  Berdenyut

13.  Pegal

14.  Pusing

Kesimpulan :

Setelah melakukan terapi dalam jangka waktu tertentu, didapatkan hasil :

1.      Untuk penderita tuna rungu, dari 12 orang yang diterapi, semuanya mengalami penambahan pendengaran baik sedikit, sedang maupun banyak. Berarti akupunktur 100% dapat menyembuhkan ketulian (baik total maupun parsial).

2.      Terapi harus dilakukan secara rutin. Sistem terapi akupunktur tidak bisa mendapatkan hasil langsung dalam sekali terapi, tetapi secara perlahan-lahan. Minimal harus 5 kali terapi secara berturut-turut akan memberikan hasil sedikit. Jika di bawah 3 kali terapi, tidak akan memberikan hasil. Di atas 15 kali, terdapat hasil signifikan.

3.      Terapi harus dilakukan minimal sekali dalam seminggu. Jika ada absen, maka pendengaran akan kembali menurun. Jika dilakukan secara rutin dan tidak ada absen, pendengaran semakin lama semakin bagus.

4.      Waktu satu sesi penusukan adalah 20 menit.

5.      Resiko akan terapi akupunktur di telinga adalah pusing yang dapat membuat pasien menjadi pucat dan pingsan karena pensukan di dalam organ telinga.

6.      Hasil yang dirasakan langsung sehabis terapi adalah telinga terasa rileks.

7.      Penilaian tidak akurat karena tidak menggunakan alat tes kebisingan (sound level meter) sehingga tidak diketahui seberapa besar kemajuan pendengaran  pasien.

************

 

1.      Gilly Apriringa (Laki-laki/18 tahun)

Total terapi : 8 kali


  1. 14 September 2011
  2. 21 September 2011
  3. 28 September 2011
  4. 05 Oktober 2011
  5. 19 Oktober 2011
  6. 26 Oktober 2011
  7. 25 Januari 2012
  8. 22 Februari 2012

Kesimpulan : Penambahan pendengaran sedang/lumayan di telinga kiri. Sebelum diterapi, dapat mendengar suara tepukan±1 meter, saat ini dapat mendengar ±3 meter.

 

2.      Jonatan OK (Laki-laki/21 tahun)

Total terapi :11 kali


  1. 14 September 2011
  2. 21 September 2011
  3. 28 September 2011
  4. 05 Oktober 2011
  5. 19 Oktober 2011
  6. 26 Oktober 2011
  7. 23 November 2011
  8. 28 Desember 2011
  9. 09 Januari 2012
  10. 18 Januari 2012
  11. 25 Januari 2012

Kesimpulan : Penambahan pendengaran sedang di telinga kiri. Sebelum diterapi dapat mendengar suara tepukan ±3 meter, setelah diterapi dapat mendengar sejauh ±5 meter.

 

3.      Ayub Indrawan (Laki-laki/18 tahun)

Total terapi :10 kali


  1. 14 September 2011
  2. 21 September 2011
  3. 28 September 2011
  4. 05 Oktober 2011
  5. 26 Oktober 2011
  6. 02 Novemeber 2011
  7. 23 November 2011
  8. 09 Januari 2012
  9. 25 Januari 2012
  10. 01 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran telinga kanan bertambah sedikit. Sebelum diterapi, bisa mendengar suara tepukan ±50 cm, saat ini sejauh ±1 meter. Pasien belum dapat mendengar suara musik.

 

4.      Vidia (Perempuan/12 tahun)

Total terapi :10 kali


  1. 14 September 2011
  2. 28 September 2011
  3. 19 Oktober 2011
  4. 26 Oktober 2011
  5. 02 November 2011
  6. 09 November 2011
  7. 23 November 2011
  8. 09 Januari 2012
  9. 25 Januari 2012
  10. 01 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran kedua telinga (kiri dan kanan) bertambah banyak.

 

5.      Rismawati (Perempuan/13 tahun)

Total terapi :19 kali


  1. 14 September 2011
  2. 21 September 2011
  3. 28 September 2011
  4. 05 Oktober 2011
  5. 19 Oktober 2011
  6. 26 Oktober 2011
  7. 02 November 2011
  8. 09 November 2011
  9. 16 November 2011
  10. 23 November 2011
  11. 07 Desember 2011
  12. 14 Desember 2011
  13. 21 Desember 2011
  14. 28 Desember 2011
  15. 09 Januari 2012
  16. 18 Januari 2012
  17. 25 Januari 2012
  18. 01 Februari 2012
  19. 22 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran kedua telinga (kanan dan kiri) bertambah banyak. Dahulu pasien tidak bisa mendengar suara, saat ini bisa mendengar suara tepukan ± 5 meter.

 

6.      Jonathan Antonio Franciscus (Laki-laki/20 tahun)

Total terapi :4 kali

  1. 14 September 2011
  2. 02 November 2011
  3. 09 November 2011
  4. 23 November 2011

Kesimpulan : Pendengaran telinga kanan bertambah banyak. Dapat mendengar suara lebih jauh saat ini, sebelum diterapi tidak bisa mendengar.

 

7.      Darul Mujianto (Laki-laki/16 tahun)

Total terapi :6 kali

  1. 14 September 2011
  2. 21 September 2011
  3. 05 Oktober 2011
  4. 02 November 2011
  5. 23 November 2011
  6. 01 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran telinga kiri bertambah banyak, telinga kanan sedikit. Saat ini dapat mendengar suara tepukan sejauh 5 meter, sebelumnya hanya 2-3 meter.

 

8.      Azizah (Perempuan/17 tahun)

Total terapi :18 kali


  1. 14 September 2011
  2. 28 September 2011
  3. 05 Oktober 2011
  4. 19 Oktober 2011
  5. 26 Oktober 2011
  6. 02 November 2011
  7. 09 November 2011
  8. 16 November 2011
  9. 23 November 2011
  10. 07 Desember 2011
  11. 14 Desember 2011
  12. 21 Desember 2011
  13. 28 Desember 2011
  14. 09 Januari 2012
  15. 18 Januari 2012
  16. 25 Januari 2012
  17. 01 Februari 2012
  18. 22 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran kedua telinga (kiri dan kanan) bertambah banyak. Saat pertama kali bertemu, pasien kurang bisa diajak berkomunikasi, dan sering tidak mengerti apa yang saya bicarakan. Tetapi terakhir kali terapi, ada peningkatan 50%.

 

9.      Andri Anto (Laki-laki/17 tahun)

Total terapi :6 kali

  1. 14 September 2011
  2. 28 September 2011
  3. 05 Oktober 2011
  4. 26 Oktober 2011
  5. 23 November 2011
  6. 25 Januari 2012

Kesimpulan : Pendengaran telinga kiri bertambah sedikit, di telinga kanan lebih sedikit lagi. Dapat mendengar suara tepukan sejauh 1 meter.

 

10.  Agus Wahyudin (Laki-laki/19 tahun)

Total terapi :11 kali


  1. 21 September 2011
  2. 28 September 2011
  3. 05 Oktober 2011
  4. 26 Oktober 2011
  5. 02 November 2011
  6. 09 November 2011
  7. 23 November 2011
  8. 18 Januari 2012
  9. 25 Januari 2012
  10. 01 Februari 2012
  11. 22 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran pada telinga kiri bertambah sedikit. Sebelum terapi, hanya dapat mendengar suara sejauh 50 cm, saat ini 1 meter.

 

11.  Mohammad Afrizal (Laki-laki/21 tahun)

Total terapi :4 kali

  1. 05 Oktober 2011
  2. 19 Oktober 2011
  3. 26 Oktober 2011
  4. 23 November 2011

Kesimpulan : Sebelum terapi, telinga kanan sama sekali tidak bisa mendengar, saat ini ada sudah bisa mendengar walau sangat sedikit. Pendengaran telinga kiri bertambah lumayan. Saat ini bisa mendengar suara sejauh 5 meter.

 

12.  Bryan Ropson (Laki-laki/19 tahun)

Total terapi :9 kali


  1. 07 Desember 2011
  2. 14 Desember 2011
  3. 21 Desember 2011
  4. 28 Desember 2011
  5. 09 Januari 2011
  6. 25 Januari 2012
  7. 01 Februari 2012
  8. 08 Februari 2012
  9. 22 Februari 2012

Kesimpulan : Pendengaran di kedua telinga bertambah sedang/lumayan. 

 

bottom

Powered by Joomla!. Designed by: Joomla Templates, php hosting. Valid XHTML and CSS.